Bab 22 – Laparoskopi Sterilisasi Tuba

Bab 22 – Laparoskopi Sterilisasi Tuba

Sterilisasi tuba dapat dilakukan baik saat setelah persalinan normal ( sterilisasi postpartum ), saat operasi caesar atau saat ketika seorang wanita tidak hamil ( sterilisasi interval ). Kebanyakan sterilisasi interval dilakukan dengan secara laparoskopi. Secara tradisional, operasi ini dilakukan dengan membuat 2 atau 3 sayatan di perut, satu sayatan umbilikus untuk pemasangan kamera, serta sayatan yang lainnya dengan port untuk menempatkan instrumen untuk melakukan operasi. Berbagai teknik sterilisasi tuba adalah sebagai berikut :

1) Penerapan Klip Laparoskopi

Ada 2 jenis klip yang tersedia di pasaran yaitu klip Hulka-Clemens dan klip Filshie. Teknik ini biasanya dilakukan dengan menggunakan 2 sayatan. Sayatan yang pertama di umbilikus untuk menempatkan teleskop 5 mm , sayatan yang kedua adalah sayatan 8 mm ditempatkan secara lateral untuk memasukkan trokar untuk aplikator klip. Klip ditempatkan pada bagian ismus dari kedua tuba. Klip memberikan tekanan pada tuba dan menghasilkan oklusi tuba menyeluruh ( penutupan ) dan akhirnya nekrosis (g) di tempat klip.

Kelebihan dari teknik ini adalah :

  1. Tidak adanya transeksi tuba atau jaringan disekitarnya sehingga resiko perdarahan berkurang.

  2. Waktu yang diperlukan sangat sedikit untuk penerapannya.

  3. Hanya 4 mm dari tabung yang rusak oleh klip sehingga pembalikan tuba di waktu yang akan datang ( apabila diminta ) akan berhasil.

Kelemahan dari teknik ini adalah harga klipnya cukup mahal. Saat ini teknik ini dilakukan melalui sayatan tunggal melalui umbilikus ( lihat bab 19 ).

Gambar 22.1 Penerapan klip Filshie

2) Laparoskopi pemasangan cincin Falope atau Yoon

Pada teknik ini segmen 2 – 3 cm tuba falopi ditarik didalam aplikator yang berbentuk kerucut sempit. Cincin silastik ( yang telah direntangkan di luar aplikator ) kemudian dilepaskan kedalam loop tuba. Ketika cincin berkontraksi karena elastisitasnya, cincin ini mengerutkan pangkal loop dan menyumbat tuba falopi. Putusnya aliran darah, loop yang mengerut diganti dengan jaringan parut, dan segmen tuba sehat yang tersisa terpisah, mirip dengan metode lama ligasi tuba pomeroy dengan teknik buka. Operasi ini dapat dilakukan dengan 1 sayatan di umbilikus dan laparoskop dapat ditempatkan agar untuk memvisualisasikan panggul dan aplikator dapat dimasukkan juga melalui kanal operatif. Operasi juga dapat dilakukan dengan 2 sayatan, 1 di umbilikus untuk penempatan laparoskop sedangkan sayatan yang lainnya ditempatkan secara suprapubik maupun secara lateral untuk menempatkan aplikator. Kerugian yang ditimbulkan dari metode ini adalah bahwa terdapatnya kemungkinan cedera pada mesosalping yang menyebabkan perdarahan. Tuba kaku atau tuba besar dapat juga dapat dibagi / dipisahkan oleh aplikator yang menyebabkan perdarahan. Akan tetapi ini dapat dikendalikan dengan koagulasi bipolar. Jumlah kerusakan jaringan yang kecil dapat memungkinkan untuk pembalikan tuba.

Gambar 22.2 Cincin falope

3) Laparoskopi Elektrokoagulasi Bipolar

Teknik ini biasanya dilakukan dengan 2 atau 3 sayatan ataupun dengan teknik sayatan tunggal. Sebuah sayatan 5 mm ditempatkan di umbilikus untuk penempatan trokar 5 mm. Dua trokar 5 mm lain ditempatkan di perut, biasanya ditempatkan di kedua sisi. Kemudian tuba dikoagulasi dan biasanya dilakukan di bagian ismus. Sekitar 3 cm tuba harus dikoagulasi. Tuba yang terkoagulasi kemudian mungkin ditranseksi dan dipotong atau mungkin juga tidak.

Gambar 22.3 Koagulasi bipolar tuba falopi kiri

4) Elektrokoagulasi Unipolar Laparoskopi

Sama halnya seperti elektrokoagulasi bipolar, operasi ini dilakukan dengan 2 atau 3 sayatan (3 sayatan apabila tuba perlu untuk ditranseksi dan dikeluarkan ). Setelah mengevaluasi dengan cermat, panggul dan usus di dorong menjauh, tabung ditahan dengan grasper yang menempel pada alat elektrokoagulasi monopolar dan sekitar 3 cm dari tuba dikoagulasi. Dikarenakan penyebaran lateral ( arus listrik menyebar keluar dari tang yang sedang mengkoagulasi ) , lebih banyak tuba cenderung menjadi rusak dalam teknik ini. Tuba yang terkoagulasi dapat ditranseksi atau dieksisi atau mungkin juga tidak.

Simak Video 22.1
Sterilisasi laparoskopi

Ligasi Tuba Sayatan Tunggal Laparoskopi

Ligasi tuba dapat juga dilakukan melalui teknik sayatan tunggal laparoskopi . Dalam metode ini dibuat lagi 2 sayatan untuk melakukan operasi, sayatan tunggal dibuat di umbilikus dan 2 atau 3 trokar ditempatkan melalui sayatan ini.

Simak Video 19.2
Sayatan tunggal ligasi tuba bilateral dengan klip Filshie)

Ringkasan

Sterilisasi interval adalah sterilisasi yang dilakukan ketika wanita tidak hamil. Sterilisasi dilakukan biasanya melalui rute laparoskopi. Terdapat beberapa teknik untuk melakukan sterilisasi termasuk penerapan klip laparoskopi, pemasangan cincin Falope atau Yoon, elektrokoagulasi bipolar laparoskopi dan juga unipolar elektrokoagulasi laparoskopi. Operasi ini juga dapat dilakukan dengan teknik sayatan tunggal laparoskopi.

KONTENT

Copyrights © 2020 Selva's Fertility, Obsterics & Gynaecology Clinic. All Rights Reserved.